Ketika Dua Universitas Sepakat Memajukan Pesisir

whatsapp-image-2016-12-22-at-06-24-16-560x315

KALI ini kedatangan saya ke Amerika Serikat, dengan satu tujuan untuk menjalin kerjasama dengan The University of Rhode Island (URI) Kingston, Amerika Serikat.

Seorang kolega saya di universitas itu, Prof Jhon Kirby yang sebelumnya telah berkunjung ke Aceh dan Universitas Malikussaleh (Unimal). Dekan Fakultas Lingkungan Hidup itu menjemput kami sejak dibandara lalu mengantarkan kami bertemu dengan Rektor kampus yang didirikan pada 1892 itu, Dr David M Dooley.

Prinsipnya, Dooley mengintruksikan Prof Kirby untuk menjalin kerjasama secara intensif dengan Unimal. Kami menandatangani perencanaan strategi pengelolaan laut Aceh dan pengembangan kawasan pesisir di Aceh. Di Amerika, URI dikenal unggul dengan kajian kelautan, perikanan air tawar dan pengembangan  wilayah pesisir.

Perjanjian lainnya yaitu pengembangan mutu pembelajaran, pengelolaan perpustakaan modern dan kerjasama riset. Artinya, kedua kampus sepakat pada perjanjian itu. Ke depan, akan ada dosen Unimal dan dosen URI melakukan riset bersama di sektor keluatan dan pesisir.

Secara khusus, Unimal telah memiliki Pusat Riset dan Kajian Kemaritiman. Selain itu, ada juga jurusan strata satu yang baru dibuka yakni Ilmu Kelautan.

Dua unit itu akan berkolaborasi melakukan riset air tawar dan potensi laut bersama tim URI. Semua riset kita sepakati aplikatif, agar bisa diterapkan oleh pemerintah, kelompok industri, usaha dan masyarakat nelayan. Secara spesifik, kedua kampus juga sepakat pertukaran fasilitas perpustakaan. Tentu, Unimal lebih diuntungkan mengingat ribuan judul buku digital bisa diakses mahasiswa dan dosen Unimal yang disimpan lewat pustaka digital URI.

Saya tentu sepakat dengan pemikiran bahwa nusantara yang ditakdirkan memiliki potensi laut yang begitu besar harus dikembangkan agar menjadi sumber pendapatan dan kemakmuran rakyat. Berpuluh tahun bangsa ini alpa akan potensi itu. Baru pada era almahurm Presiden Abdurrahman Wahib (Gusdur) ada departemen khusus yang mengurusi sektor kelautan.

Era Presiden Joko Widodo, mencangkan pembangunan maritim sebagai titik fokus pembangunan nasional. Gebrakan ini tentu perlu didukung oleh semua elemen, salah satunya Unimal. Untuk itu, perlu kajian mendalam agar potensi laut bisa bermanfaat. Sebut saja misalnya, kajian bagaimana mensejahterakan nelayan, kawasan pesisir yang umumnya menjadi salah satu titik pusat kemiskinan di sejumlah daerah di tanah air.

Kajian-kajian jenis ini diperlukan, agar pembangunan oleh pemerintah tepat sasaran dan berujung pada kemakmuran masyarakat. Saya juga mengajak Dooley, untuk mengembangkan sejumlah waduk yang sedang dibangun di Aceh.

Dooley tersenyum dan menyambut baik. Sangat senang mendengar bahwa pemerintah mengembangkan waduk. “Kita sepakat teliti ikan air tawar dan program lainnya untuk efisiensi waduk. Jadi, waktu bukan hanya sekadar solusi banjir, juga bisa menjadi sumber pencarian, eko wisata dan seterusnya untuk kemakmuran rakyat Aceh,” kata Dooley.

Usai bertemu dengan Dooley dan timnya, kami akan melanjutkan perjalanan ke Boston. Selama di Amerika, saya teragenda dengan pemimpin Harvard University,  Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di akhir kunjungan kami akan berbincang dengan Duta Besar Indonesia di Washington DC.

Semoga kerjasama ini berdampak untuk kesejahteraan rakyat Aceh serta peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa Unimal di masa mendatang.

Sumber : http://apridar.unimal.ac.id/2016/12/18/ketika-dua-universitas-sepakat-memajukan-pesisir/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *