Festival Naskah Nusantara II : Meneguhkan Jatidiri Kebhinekaan Indonesia

img_3805-370x280

Aksara merupakan suatu karya budaya yang memiliki arti penting dalam perkembangan kehidupan manusia. Sejak dikenalnya aksara, manusia mampu menyampaikan gagasan dan pikirannya tanpa dibatasi waktu. Tulisan menjadikan manusia memasuki era sejarah. Dengan adanya catatan sejarah, manusia mengetahui masa lalu. Bahkan, sumber tertulis merupakan bahan yang paling memadai dalam penelitian sejarah, baik yang tertuang dalam karya sastra maupun dalam prasasti.

Tulisan juga merupakan bagian dari identitas bangsa yang membedakan Indonesia dengan bangsa lainnya. Aksara nusantara adalah ciri jatidiri yang menjadi kebanggaan masyarakat nusantara. Adanya aksara asli nusantara menggambarkan betapa tingginya budaya Indonesia. Aksara nusantara tidak hanya sekedar tanda grafis yang kita gunakan untuk berkomunikasi, tapi terdapat pula pemikiran filosofis di dalamnya. Nilai-nilai filosofis tersebut turut membentuk jatidiri kebhinekaan sebagai bangsa.

Ambil contoh, negara-negara seperti Jepang, India, Tiongkok yang masih setia dengan aksara aslinya, warisan leluhur yang sekaligus akar peradaban mereka ternyata masih digdaya dan berdiri kokoh sebagai negara yang turut mempengaruhi peradaban dunia hingga sekarang. Berkembang tanpa harus kehilangan jatidiri bangsa.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menyimpan banyak kekayaan peradaban yang terserak dari ujung Sabang hingga Merauke.  Posisinya sebagai jalur perdagangan membuatnya ramai dikunjungi orang dari bermacam negara dan budaya. Dari situ, terjadilah pertemuan dan pertukaran antarbudaya yang berbeda yang berlangsung hingga ribuan tahun. Latar inilah yang membuat budaya Nusantara begitu kaya, termasuk bahasanya yang sangat beranekaragam. “Indonesia adalah negara multikultural dengan ratusan bahasa yang menjadi salah satu kekuatan di dalamnya,” ujar Ketua Masyarakat Naskah Nusantara Oman Fathrurahman saat mengikuti Festival Naskah Nusantara II yang diadakan Perpustakaan Nasional, Senin, (26/9).

Aksara nusantara ditulis dengan media prasasti dan naskah. Media prasasti yang digunakan biasanya terbuat dari batu, kayu, tanduk hewan, maupun lempengan logam. Sedangkan media naskah menggunakan daun lontar, daun nipah, janur, bilah bambu, kulit kayu, kertas, dan kain. Aksara-aksara Nusantara tidak bersifat statis, tapi tumbuh dan berkembang, bahkan punah pun seiring laju zaman. Banyak naskah Nusantara yang telah punah akibat bencana alam maupun ketidakpedulian manusia.

Lalu, sudah banyak terjadi naskah-naskah lama (manuskrip) yang dimiliki perorangan karena alasan ekonomi dijual melalui pasar bebas internasional dan dipelajari mereka sehingga manfaat yang diperoleh justru tidak dinikmati masyarakat Indonesia sendiri. “Situasi ini sangat mengkhawatirkan dan memerlukan semua pihak,” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando.

Jika suatu bangsa tidak terlibat dan menikmati sendiri, maka identitas kebudayaan bangsa mungkin akan lebih banyak dikonstruksi oleh “orang lain” yang belum tentu sesuai dengan cara pandang bangsa itu sendiri.

Kepala Perpusnas mengatakan saat ini, naskah-naskah yang berada di Perpustakaan Nasional masih terus terjaga dan dirawat secara berkala demi kelestariannya. Sebagian ada yang telah dialih mediakan dan dialih bahasakan.  Dari sekitar 10.849 naskah nusantara dalam berbagai aksara yang tersimpan di Perpusnas, sesuai perkembangan zaman, Perpusnas membuka diri dalam mempromosikan akses terhadap koleksi-koleksi naskah kunonya. Sebagian ada yang sudah bisa diakses secara daring. Bahkan beberapa diantaranya telah dikukuhkan sebagai warisan ingatan dunia (memory of the world), seperti naskah Negarakertagama, Babad Dipanegara, I La Galigo, dan Cerita Panji.

Peradaban tertulis yang pernah dihasilkan dan bertahan secara turun temurun banyak mengandung kearifan lokal yang perlu dipelajari. Generasi muda tidak boleh terputus dengan kegemilangan para leluhur. Naskah lama (manuskrip) menjadi salah satu jembatan untuk “mendatangi” kembali prestasi para leluhur bangsa dan mempertimbangkannya sebagai cara untuk merawat kepribadian dan jatidiri kebudayaan, serta untuk meneguhkan kembali karakter kebhinekaan Indonesia.

Festival Naskah Nusantara (FFN) II bertujuan untuk mempromosikan, menggali, mengangkat, dan mempertimbangkan persoalan-persoalan yang terkait dengan pembentukan identitas dan jatidiri kebudayaan bangsa yang terdapat dalam berbagai naskah Nusantara.

FFN berlangsung dari tanggal 26-29 September, merupakan hasil kerjasama Perpusnas dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa), yang menampilkan pameran naskah dalam berbagai aksara dan bahasa, workshop pembuatan kertas tradisional daluwang dan lontar, workshop konservasi naskah, workshop penulisan aksara-aksara kuno Nusantara, pertunjukkan musik tradisional, lomba pembuatan film animasi yang diangkat dari naskah Negarakertagama, Babad Dipanegara, dan Cerita Panji, serta Simposium internasional pernaskahan nusantara yang menghadirkan pembicara ahli pernaskahan nusantara dari British Library, Leiden University, Cologne University, EFEO-Paris, Hamburg University, PPIM-UIN Jakarta, UI, dan UGM Yogyakarta.

Keterbukaan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah peluang besar bagi Indonesia untuk lebih memperkenalkan keragaman dan kebhinekaan kebudayaan Nusantara, terutama melalui revitalisasi naskah-naskah lama. Kekayaan warisan tertulis yang mencerminkan keragaman bangsa Indonesia patut diketahui publik secara luas.

Reportase : Hartoyo Darmawan

Fotografer : Hartoyo Darmawan

Sumber : perpusnas.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *