Perpusnas RI

Ronggeng Melayu, Sejarah yang Nyaris Terlupakan

img_3529-370x280-1

Sebagian masyarakat mungkin masih mengenal kesenian tari “Serampang Dua Belas”. Tapi tidak banyak yang mengetahui asal muasal tarian tersebut. Bahkan, nama tarian tersebut mungkin saat ini kalah popular dengan kesenian maupun kebudayan barat yang sering di dengar dan disaksikan di layar kaca. Tapi, tahukah bahwa tarian Serampang Dua Belas merupakan anak tari dari kesenian yang dinamakan Ronggeng Melayu. Kesenian asli Melayu yang berkembang di Aceh dan Sumatera bagian timur—kini dikenal Sumatera Utara.

Adalah dua seniman Melayu, Anjang Nurdin Paitan dan Napsiah Karim yang memegang andil meluasnya ronggeng Melayu Deli di kenal hingga ke seantero Nusantara dan Asia Tenggara. Bahkan, para generasi penari ronggeng, diantaranya Ayu Nurjanah, Feni, Dian Anggraeni, dan Nani Wijaya, mengakui pernah tampil di hadapan Presiden Soekarno dalam suatu acara kenegaraan.

Ronggeng menurut peneliti dari Austria berasal dari Tanah Jawa. Dan di bumi Sumatera, kesenian ronggeng berkembang pesat pada masanya di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Ronggeng Melayu Deli merupakan salah satu kesenian yang sanggup bertahan hingga sekarang. Ronggeng identik dengan pantun. Tanpa pantun, tidak mungkin bisa menembangkan Ronggeng Melayu Deli. “Komunikasi bergaya pantun yang dilantunkan sang penembang menjadi daya tarik khusus kesenian Ronggeng Melayu,” imbuh Retno Ayumi, salah satu pelaku Ronggeng Melayu saat menjadi pembicara talkshow “Ronggeng Melayu dari Waktu ke Waktu”, yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis, (22/9).

Ronggeng Melayu, lanjut Retno, berisikan pesan aktual sepanjang zaman. Namun, sayangnya ronggeng kini hanya dilihat sebagai aspek hiburan semata. Pantun yang menjadi kekuatan tarian Ronggeng Melayu telah kehilangan pamornnya akibat kurangnya kepedulian dan ruang ekspresi yang diberikan, kecuali di kampung-kampung. Saat ini, kesenian Ronggeng Melayu masih bisa dibawakan oleh generasi anak cucu. Tapi, jika ini tidak diwariskan lagi, Ronggeng Melayu Deli akan mendekati kepunahan, apalagi jika tidak ada lagi yang mau menjadi penutur pantun. “Belum ada regenerasi yang tertarik mengikuti kesenian tersebut,” ungkapnya prihatin.

Padahal, Ronggeng Melayu adalah salah satu bentuk kesenian yang cerdas, karena basic (dasar) yang diperlukan adalah pandai berpantun, ungkap Dosen Etnomusikologi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Rezaldi P. Siagian. “Pantun adalah tradisi lisan yang menjadi kekayaan budaya Nusantara,” katanya. Namun, senada dengan yang dikhawatirkan Retno Ayumi, akibat minimnya ruang publik untuk berekspresi, kesenian tersebut bisa saja mendekati punah. Bersyukur, kesenian Ronggeng Melayu masih bisa dinikmati di anjungan Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Perpustakaan Nasional sebagai salah satu lembaga pelestari khasanah budaya bangsa juga turut berupaya menyelamatkan kesenian Ronggeng Melayu dari kepunahan, salah satunya adalah menyimpan dan merawat segala bentuk partitur (notasi musik) yang terdapat pada musik tradisional dari seluruh Nusantara. “Kebudayaan adalah entitas (jatidiri) bangsa. Di masa yang akan datang, kepedulian yang ditunjukkan Perpusnas tidak hanya berhenti pada Ronggeng Melayu, tapi juga kesenian-kesenian lain,” tegas Kepala Perpusnas Muh. Syarif Bando.

Di saat yang sama, Perpusnas secara resmi menganugerahi penghargaan Wira Budaya terhadap dua tokoh pelestari seni budaya Ronggeng Melayu, yaitu Anjang Nurdin Paitan dan Napsiah Karim. Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala Perpusnas kepada ahli waris kedua seniman tersebut. Dan di kesempatan yang sama pula, Kepala Perpusnas menerima ratusan partitur untuk disimpan dan dilestarikan di Perpustakaan Nasional sebagai bagian dari kekayaan karya intelektual budaya bangsa.

Penyerahan partitur, antara lain diberikan oleh seniman Diah Ekawati sebanyak 27 partitur, lembaga pendidikan School of Art sebanyak 50 partitur, dan Nasidariyah sebanyak 341 partitur. Sekedar informasi, Nasidariyah adalah pencipta lagu ‘Perdamaian’ yang populer dibawakan grup band GIGI.

Reportase : Hartoyo Darmawan

Fotografer : Hartoyo Darmawan

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close