Perpusnas RI

Sarasehan Pustakawan Tingkat Ahli 2016 : Kedepankan Profesionalisme Pustakawan

Jika perpustakaan diibaratkan sebagai gudang peradaban ilmu pengetahuan dan informasi, maka pustakawan adalah kuncinya. Kunci untuk memasuki gudang peradaban. Perumpamaan yang ciamik yang melekat pada setiap jati diri pustakawan terkait dengan amanah dan tugas yang diembannya. Sebagai pemegang kunci peradaban, pustakawan harus membekali dirinya dengan keahlian yang memadai, pengetahuan mumpuni, serta etos kerja yang tinggi.

“Jika ini belum dapat disanggupi oleh pustakawan, mustahil kepuasan ataupun kebutuhan pemustaka terpenuhi,” ucap Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Woro Titi Haryanti di hadapan ratusan pustakawan tingkat ahli di lingkungan Perpustakaan Nasional pada kegiatan Sarasehan Pustakawan di Jakarta, Senin, (22/8).

Profesionalisme pustakawan dipertaruhkan, apalagi saat ini Indonesia bersama seluruh negara-negara di kawasan ASEAN telah memberlakukan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dimana seluruh negara di kawasan Asia Tenggara membuka seluas-luasnya bagi siapapun individu yang memiliki kapasitas dan keahlian yang sanggup bersaing secara sehat dan profesionalisme, terutama dalam aspek lapangan kerja. Jabatan pustakawan menjadi salah satu aspek pekerjaan yang diminati banyak orang di Indonesia. Salah satunya contohnya, Kepala Perpustakaan Universitas Pelita Harapan di Karawavi, Tangerang, yang saat ini diduduki oleh warga kebangsaan Filipina.

Profesionalisme pustakawan mencakup tiga unsur, yakni pengabdian, idealisme dan pengembangan. Artinya, setiap pustakawan disyaratkan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. Apalagi dukungan teknologi informasi dan teknologi sudah begitu massif. Masyarakat sudah tidak terlalu peduli dengan keberadaan perpustakaan, kalau hanya sekedar untuk membaca. “Ini adalah tantangan bagi pustakawan bagaimana mengajak orang untuk tetap datang ke perpustakaan ditengah terpaan arus teknologi informasi,” imbuh pustakawan utama Supriyanto.

Pustakawan, lanjut Supriyanto, harus mampu berperan sebagai problem solving dari segala rasa keingin tahuan masyarakat. Pustakawan harus tahu dan peduli terhadap perkembangan di luar kapasitas sebagai pustakawan.

Selain ditunjang oleh sikap profesionalisme, pustakawan juga harus memiliki etika profesi dan kode etik profesi. Kompetensi adalah kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang dapat terobservasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan.

Menurut pangkalan data pustakawan, jumlah pustakawan Perpustakaan Nasional tercatat 263 orang yang terdiri dari 4 pustakawan utama, 52 pustakawan madya, 67 pustakawan muda, 93 pustakawan pertama, 12 pustakawan terampil, 9 pustawakan mahir, dan 29 pustakawan penyelia.

Reportase : Hartoyo D

Fotografer : Hartoyo D

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close