Perpusnas RI

Perpusnas Rencanakan Gelar Festival Film Etnografi

DSC_9419-370x280

Jakarta–Sebagai salah satu negara yang kaya dengan keindahan alam dan budaya. Indonesia mempunyai keanekaragaman flora, fauna, budaya, suku, bahasa, serta adat istiadat selalu mengundang rasa penasaran para peneliti maupun wisatawan yang berkunjung. Namun, kekayaan alam dan keanekaragaman yang dimiliki Indonesia belum mampu terekam dengan baik, sehingga ekspos yang dilakukan tidak bisa maksimal. Mayoritas para peneliti maupun wisatawan mengetahui kekayaan alam nusantara dari mulut ke mulut. Objek-objek etnografi Indonesia belum terdokumentasi dengan baik.

“Indonesia masih minim film etnografi. Justru yang terjadi sebaliknya, banyak sineas internasional yang tertarik dengan alam Indonesia,”ujar Gerzon Awala, Dosen Institut Kesenian Jakarta saat menjadi pembicara Diskusi Film Nasional yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional, Rabu, (18/5). Film, lanjut Gerzon, adalah salah satu bentuk national heritage. Namun, sayangnya film-film non fiksi, seperti film etnografi masih terbatas jumlahnya. Padahal, film bergenre non fiksi akan selalu dilihat sampai kapanpun.

Hal tersebut bisa saja terjadi, karena memproduksi film-film etnografi atau non fiksi tidak bisa mendatangkan keuntungan. Beda halnya, jika memproduksi film-film bergenre komedi, percintaan maupun horor. Modal kembali cepat, keuntungan bisa berlipat-lipat. Dengan populasi yang mencapai 250 juta jiwa, bagi pelaku industri film, ini tentu adalah ceruk bisnis yang menggiurkan. Pamor film non fiksi masih kalah dengan film-film populer (box office).

Menyikapi gejala tersebut, pemerintah harus segera turun tangan dengan merangkul para pelaku industri film untuk sama-sama menggarap film-film dokumenter agar kekayaan alam nusantara bisa disaksikan oleh siapapun dan kapan pun. Film non fiksi juga tidak kalah kualitas dengan film-film yang beredar di bioskop-bioskop. Dokumentasi film non fiksi yang baik bisa dipakai sebagai alat promosi untuk menaikkan angka kunjungan wisatawan.

Perpustakaan Nasional yang salah satu tugasnya menyimpan segala jenis karya anak bangsa mendukung penuh niat pemerintah menggalakkan produksi film-film non fiksi. Dukungan terhadap film non fiksi ditunjukkan oleh Perpustakaan Nasional sejak beberapa tahun yang lalu Perpusnas mengudang para sineas, mahasiswa, pemerhati film, dan masyarakat untuk menyaksikan tayangan film-film etnografi maupun dokumenter lainnya yang diputar secara gratis. “Demi menaikkan kecintaan masyarakat terhadap film-film non fiksi, Perpusnas merencanakan akan menggelar Festival Film Etnografi di tahun depan, ” ujar Deputi II Perpusnas Woro Titi Haryati.

Film adalah salah satu bentuk hasil karya yang dihasilkan dari suatu kerjasama yang kolektif. Bagus atau tidaknya suatu film yang dihasilkan, masyarakat yang akan menilai. Ketua Asosiasi Pengusaha Film Indonesia (APFI) Ody mengakui kalau masyarakat saat ini sudah cerdas untuk menakar kualitas sebuah film yang diputar. “Publik sudah dewasa, tahu mana film yang bagus atau tidak,” ucapnya.

Sependapat dengan Ody, Ketua Sinematek Indonesia (SI) Ady Surya Abdi mengatakan setiap film memiliki logikanya sendiri. Namun, Ady menekankan sebuah film dikatakan berkualitas apabila mampu memberikan informasi dan edukasi positif bagi khalayak yang melihat.

 

Reportase : Hartoyo Darmawan
Sumber : Perpusnas.go.id

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close