Perpusnas RI

Launching dan Bedah Buku Anand Khrisna Jalan Hidup Manusia Menuju Kesempurnaan

IMG_9293Perpustakaan Nasional bersama Yayasan Anand Ashram menggelar bedah buku karya Anand Khrisna yang berjudul Dvipantara Dharma Sastra di Gedung Perpustakaan Nasional, Kamis, (14/1). Bedah buku dihadiri tidak kurang dari 300 undangan dari berbagai daerah.

Buku yang dalam versi Bahasa Inggrisnya berjudul “Centre for Vedic and Dharmic Studies merupakan kumpulan transkreasi dari sloka-sloka Sara-Samuccaya, Slokantara dan Seveka Dharma. “Buku ini berisi tulisan bijaksana masa lampau dari nenek moyang bangsa Indonesia yang dituangkan dalam lontar Sara-Samuccaya dan Slokantara yang ditemukan di Bali,” terang Ketua Yayasan Anand Ashram Wayan Sayoga.

Demikian pula lontar Sevaka Dharma dari tataran Sunda merupakan warisan luhur budaya nusantara yang sarat makna pendidikan serta seni kehidupan dalam membangun karakter manusia Indonesia berbasis budaya.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi untuk mempertahankan kehidupannya. Dari proses interaksinya, lahirlah berbagai makna berperilaku kehidupan yang berasal dari generasi ke generasi maupun pengalaman hidup.

Rangkaian perilaku dan makna lalu mengkristal membentuk yang namanya local wisdom (kearifan lokal). Peradaban masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan masa lalu, masa kini dan masa depan. Tidak sekedar bersifat linier, tapi saling mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan. Kearifan lokal tersebut sebagian menjelma menjadi karya-karya budaya yang adiluhung, dan unik, baik karya sastra maupun karya seni.

“Seni tradisi mempunyai nilai-nilai luhur yang semestinya tetap hidup dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat karena dapat memperkaya pengalaman hidup, seperti pengalaman religius, sosial, dan estetis,” kata rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Solo Sri Rochana Widyastutieningrum.

Di tempat yang sama, budayawan Sunda Lucky Hendrawan mengatakan wejangan kebaikan terdapat pada ketiga lontar tersebut adalah ‘jalan hidup’ yang harus ditempuh generasi penerus. Tidak disangkal, pada dasarnya wejangan tersebut amat sulit dijalankan dengan penuh kesadaran.

“Keunikan isi ajaran tersebut adalah tidak adanya unsur lain turut campur dalam penghakiman manusia atas perilaku apapun. Seperti hidup dalam ruang evolusi,” jelas Lucky saat menjadi pembicara bedah buku Anand Khrisna .

Para leluhur dan pini-sepuh memberikan wejangan Sara-Samuccaya, Slokantara, dan Sevaka Dharma bukan tanpa sebab. Kumpulan pengalaman dan hasil pemikiran cerdas bijaksana yang diwariskan bertujuan menuntun manusia agar mencapai keparipurnaan hidup. ‘Jalan kebaikan’ yang dibeberkan sangat berat dan tidak menjanjikan apapun selain ‘kemuliaan’ sebagai manusia yang berhasil mencapai derajat ‘keabadian’.

Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih menyambut baik diterbitkannya buku tersebut. Buku Dvipantara Dharma Sastra adalah karya yang bisa dibanggakan, karena memuat pengetahuan yang banyak mengandung nilai-nilai luhur bangsa. “Warisan keilmuan leluhur itu penting sebagai bentuk jati diri sebagai bangsa yang besar tanpa harus menghilangkan kearifan lokal,” imbuhnya.

Kalau dicermati lebih jauh, karya-karya peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengantarkan manusia pada kehidupan yang lebih cerah dan bermakna. Makanya, tidak heran jika banyak peneliti dari luar negeri yang tertarik untuk menelaah dan mengkaji warisan peninggalan leluhur bangsa. Tidak sedikit pula manuskrip (naskah kuno) Nusantara yang berpindah tangan ke luar negeri.

Perpustakaan Nasional sendiri saat ini telah berhasil menghimpun sedikitnya 10.300 naskah kuno dalam berbagai bentuk. Jadi, masyarakat bisa kapan saja memanfaatkan kandungan isi dari naskah kuno yang amat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan bersosial dan berbangsa.

Anand Khrisna sependapat betapa pentingnya perpustakaan memegang peranan pada proses peradaban bangsa. perpustakaan merupakan guru diatas guru. Selama berkarir dalam dunia spiritual, dan penulis, Anand Khrisna juga membentuk organisasi yang peduli dalam membangun jiwa-jiwa manusia Indonesia lewat pemberdayaan diri, salah satunya adalah National Integration Movement.

Kegiatan bedah buku diselenggarakan bertepatan dengan Hari Jadi Yayasan Anand Ashram yang ke-26 pada jatuh tanggal 14 Januari, dan sekaligus dikukuhkan menjadi bagian dari Sahabat Perpustakaan.

Sumber: Hartoyo Darmawan

Sumber : perpusnas.go.id

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close